Pameran “SISA” ala Kukuh Ramadhan, Ekspresi Lingkungan yang Tersisa di 2025
KAUSA.ID, PALU – Ruangan dua setengah meter kali lima meter itu disulap dengan dominasi cat hitam, diterangi satu bohlam kuning temaram. Di sudut dalam, layar monitor berkedip-kedip, menampilkan riak ombak merah teluk Palu berlatar samar gunung Gawalise yang tercabik tambang.
Dinding sebelah kanan, kolase photo “SISA” kejadian bencana yang ter-capture dalam ukuran mini menempel berdampingan seperti bentuk satu cerita yang tidak selesai. Jika melihat dengan seksama, garis cerita dalam photo tersebut membentuk satu garis linear tentang Teluk Palu dan Pegunungan yang perlahan memudar kehilangan warna hijau alamnya. Pohon.
Berhadap-hadapan dengan photo wall. Berdiri tegak laki-laki. Kurus, putih, tinggi dengan sedikit kumis tipis dan janggut yang jarang. Umurnya kurang lebih 30an. Dialah Kukuh Ramadhan yang menggagas pameran tunggal. Collector photo, designer pameran dan pemilik cerita yang mengekspresikan rasa ketidakpuasannya terhadap kondisi lingkungan saat ini dengan pameran berjudul “SISA”.
“Ini hari terakhir dari Sisa. Saya memanglah manampilkan tema ini karena semua berasal dari sisa-sisa. Karya lama yang punya irisan dengan lingkungan dan pernah ditampilkan untuk pameran World Bank Resilince” Kata Kuku.
Menurutnya, karya sisa-sisa ini adalah bagian yang tidak selesai saat penolakan tanggul di teluk Palu. Dari yang tersisa, dia melihat keterhubungan antara teluk dan pegunungan yang saat ini semakin mengkuatirkan.
Kuku juga menyebut sepenggal batang pohon sisa tebangan yang terletak di tengah ruang pamer yang berjudul “Mengusir Rayap”. Dia bercerita tentang makna sisa penggalan batang pohon yang berpori karena dimakan rayap. Kuku mengibaratkan hal itu sebagai masayarakat yang terusir dari tanahnya karena mengalah dengan program investasi untuk daerah.
“Rayap itu kan hidup aman, tenang didalam batang pohon yang terbuang itu. tidak mengusik, tidak mengambil dan tidak merusak milik orang. Tiba-tiba, ada yang lihat, tertarik dan menguasainya dengan cara mengusir. Saya pikir ini kok sama dengan kita yang diusir karena tanah kita layak untuk pertambangan.” Kata Kukuh lagi.
SISA adalah bagian dari ekspresi kegelisahan seniman yang diutarakan melalui karya heterogen dari berbagai macam jenis seperti photo, patung dan benda sisa. Karya seni yang bercerita tentang kebijakan yang tidak berpihak ke lingkungan, kemarahan masyarakat yang tidak mendapatkan solusi perbaikan sistem termasuk regulasi yang tidak bersolusi.
Pameran “SISA” berkonsep Heterogen – Installation Art ini digelar di Rumah Tiara Coffee sejak 27 Desember kemarin dan berakhir di 3 Januari 2026 ditutup dengan pemutaran Film Budaya Kaili. (Mini/**)


Tinggalkan Balasan