KAUSA.ID, PALU — Karsa Institute menggelar Workshop Pembelajaran (Lesson Learned) terkait implementasi program Women Empowerment Nexus (WE Nexus) yang telah berjalan sejak 2024 di Kabupaten Sigi. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (29/1/2026) di salah satu hotel di Kota Palu.

Workshop tersebut menjadi ruang refleksi bersama untuk mengevaluasi capaian, tantangan, serta pembelajaran selama dua tahun pelaksanaan program. Selain itu, forum ini juga diarahkan untuk merumuskan rekomendasi dan strategi keberlanjutan program WE Nexus ke depan di Kabupaten Sigi.

Kegiatan ini didukung oleh Korea International Cooperation Agency (KOICA), Yayasan CARE Peduli, dan UN Women. Hadir dalam workshop ini Pemerintah Kabupaten Sigi, instansi mitra terkait, serta seluruh perwakilan Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) dari berbagai wilayah di Sigi.

Manajer Climate Resilience and Humanitarian Portfolio, Rene Picasso, menjelaskan bahwa workshop dirancang sebagai forum terbuka berbasis pengalaman lapangan. Menurutnya, pembelajaran dari praktik nyata menjadi penting agar program tidak berhenti pada laporan administratif semata.

“Forum ini menjadi ruang refleksi bersama. Kita melihat apa yang sudah berjalan baik, apa tantangan yang dihadapi, serta pembelajaran penting dari implementasi pendekatan WE Nexus di Kabupaten Sigi,” ujar Rene.

Ia menambahkan, program WE Nexus hadir di tengah kompleksitas persoalan daerah, mulai dari krisis kemanusiaan, dampak perubahan iklim, hingga dinamika sosial yang terus berkembang. Dalam konteks tersebut, pendekatan Nexus dinilai bukan lagi sebagai pilihan, melainkan kebutuhan strategis.

Rene berharap, melalui workshop ini, dapat dihasilkan rekomendasi yang rinci, aplikatif, dan mudah diterapkan. Ia juga mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor serta replikasi praktik-praktik baik yang dinilai berhasil, baik oleh masyarakat maupun Pemerintah Kabupaten Sigi.

Sementara itu, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sigi, Anwar, menegaskan pentingnya forum pembelajaran ini dalam mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan. Ia menyebut Kabupaten Sigi sebagai wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana alam dan dinamika sosial politik.

“Kondisi ini tidak hanya berdampak pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga memengaruhi kemampuan masyarakat dalam merespons krisis dan membangun pemulihan jangka panjang,” kata Anwar.

Ia menekankan bahwa ketangguhan daerah tidak cukup jika hanya berfokus pada kesiapsiagaan teknis. Menurutnya, ketangguhan harus bersifat inklusif, sensitif terhadap konflik, serta mampu memperkuat kohesi sosial dan perlindungan kelompok rentan, khususnya perempuan dan pemuda sebagai aktor penting pembangunan dan perdamaian.

Dalam konteks tersebut, Program WE Nexus dinilai relevan karena menghadirkan pendekatan transformatif yang mengintegrasikan dimensi sosial, perlindungan, dan partisipasi kelompok rentan. Anwar berharap hasil workshop ini dapat menjadi pijakan nyata dalam perencanaan pembangunan daerah.

“Jangan sampai pembelajaran berhenti di atas kertas. Ini harus menjadi dasar untuk memperkuat ketangguhan daerah dan memastikan tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal,” tegasnya.

Sementara itu, CEO Yayasan CARE Indonesia, Abdul Wahib Situmorang, menyoroti makna pembelajaran dalam program WE Nexus. Ia menjelaskan bahwa workshop ini bukan sekadar proses belajar, melainkan belajar dari pengalaman yang telah dijalani selama dua tahun implementasi.

Menurut Wahib, WE Nexus mengintegrasikan tiga pilar utama, salah satunya pendekatan kemanusiaan yang menempatkan martabat manusia sebagai prinsip dasar tanpa membedakan latar belakang suku, agama, gender, maupun status sosial ekonomi.

“Kita semua diciptakan dengan martabat yang sama dan harus diperlakukan setara. Itu inti dari prinsip kemanusiaan,” ujarnya.

Ia menilai keberhasilan pendekatan inklusif ini tercermin dari meningkatnya partisipasi perempuan dalam berbagai kegiatan program. Bahkan, jumlah peserta perempuan dalam forum tersebut lebih banyak dibandingkan laki-laki, yang menunjukkan adanya perubahan positif dalam pola partisipasi pembangunan.

Selain itu, Wahib menjelaskan bahwa pendekatan pembangunan manusia dan masyarakat dalam WE Nexus menempatkan peningkatan kapasitas sebagai fokus utama, bukan hanya pembangunan fisik. Ia mencontohkan praktik pelatihan yang selama ini cenderung terpusat di kota dan kurang ramah bagi perempuan.

Melalui WE Nexus, pelatihan didorong lebih dekat ke desa dan komunitas, sehingga perempuan memiliki akses yang lebih setara untuk meningkatkan keterampilan dan kemandirian ekonomi.

“Jika perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki keterampilan, maka ketahanan ekonomi keluarga akan lebih kuat dan ketergantungan pada bantuan negara dapat berkurang,” pungkasnya. (kn/kn)