KUASA.ID, SIGI – KARSA Institut menargetkan 25 usaha baru untuk penyandang disabilitas dan orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) di kabupaten Sigi di tiga tahun ke depan.

Target ini menjadi bagian dari Program Kelompok Usaha Bisnis Inklusif ( KUBIK) yang diprakarsai oleh KARSA Institute dengan dukungan NLR Indonesia. Program ini berlokasi di sembilan desa yang tersebar di Kecamatan Dolo dan Sigi Biromaru.

Program penguatan dan pengembangan usaha ini menyasar pemuda penyandang disabilitas dan orang yang pernah mengalami kusta yang berusia 18-25 tahun.

Program KUBIK bagi Herman (45) penyandang disabilitas asal desa Pombewe merupakan jalan keluar bagi keahlian yang dimiliki oleh mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
Selain itu, katanya, lewat program ini, peluang untuk mandiri, bersosialisasi dan membangun kemampuan yang selama sulit diakses menjadi jauh lebih baik dan terfasilitasi.

Direktur Eksekutif KARSA Institute, Rahmat Saleh mengatakan, Kabupaten Sigi memiliki perhatian terhadap isu disabilitas, meskipun implementasinya masih terus perlu diperkuat.

“Beberapa daerah sudah memiliki perda disabilitas, tetapi belum terlihat aksi nyata. Di Sigi, meskipun belum sempurna, sudah ada ikhtiar yang baik. Hari ini, KARSA berkesempatan untuk melanjutkan dan mewujudkan rencana aksi tersebut dalam bentuk program konkret,” ujarnya.

Hal ini dinyatakan Rahmat Saleh saat pembukaan sosialisasi Program KUBIK (Kelompok Usaha Bisnis Inklusif) 2.0 di Kantor KARSA Institute, Kamis (23/4/2026).

Program KUBIK yang menjadi bagian dari Program BEN Inisiasi dari KARSA Institute yang bekerjasama dengan pemerintah kabupaten adalah program yang menyasar 1.061 penyandang disabilitas di Sigi.

Dalam program ini, peserta akan mendapatkan pendampingan dalam pengembangan usaha berbasis minat, mulai dari penyusunan rencana bisnis hingga akses permodalan. Selain itu, peserta juga akan dibekali dengan pelatihan keterampilan, termasuk penguatan kapasitas sosial dan emosional sebagai bagian dari kesiapan berwirausaha.

Koordinator Program KUBIK, Florensius mengungkapkan, salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan program adalah keterbatasan data, khususnya terkait OYPMK yang masih dipengaruhi oleh stigma di masyarakat.

“Pendataan masih menjadi kendala karena stigma yang melekat. Ini menjadi tantangan yang harus kita hadapi bersama dalam memastikan program tepat sasaran,” jelas Florensius.

Sementara itu, pihak Dinas Sosial Kabupaten Sigi menyampaikan, hingga saat ini belum tersedia data spesifik terkait OYPMK dan program yang ada masih bersifat umum untuk penyandang disabilitas. Mereka juga menekankan pentingnya penguatan mental bagi penyintas kusta agar mampu beradaptasi dan tidak merasa terpinggirkan

Program KUBIK sebelumnya telah diimplementasikan di Medan dan Manggarai dan kini diperluas ke wilayah Sigi sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi inklusif berbasis komunitas.
Di sisi lain, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menyatakan, isu disabilitas telah masuk dalam dokumen rencana strategis daerah, sehingga diharapkan dapat mendukung keberlanjutan program ke depan.

Melalui sosialisasi ini, diharapkan terbangun kesamaan pemahaman dan komitmen antar pemangku kepentingan dalam mendukung implementasi program, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam mendorong kemandirian ekonomi bagi kelompok rentan di Kabupaten Sigi. (**)