KOLONODALE, KAUSA – Program Gerobak Sayur Lapas Kolonodale yang dikembangkan Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Kolonodale patut mendapatkan apresiasi. Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah (Kanwil Ditjenpas Sulteng) memberikan apresiasinya.  Inovasi ini tidak hanya melatih keterampilan bertani warga binaan, tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan pemasaran dan wirausaha sebagai modal setelah bebas. 

Melalui lapak yang dibuka setiap kali masa panen, warga binaan Lapas Kolonodale memasarkan langsung berbagai hasil pertanian seperti kangkung, bayam, sawi, terong, cabai, kacang panjang, dan aneka sayuran lainnya kepada masyarakat. Seluruh komoditas tersebut berasal dari lahan pembinaan yang dikelola bersama petugas, dengan harga terjangkau mulai Rp5.000. Program Gerobak Sayur Lapas Kolonodale ini memberikan pengalaman nyata dalam proses bisnis.

Kepala Kanwil Ditjenpas Sulteng, Herman Mulawarman, menilai program tersebut adalah contoh pembinaan yang memberikan manfaat nyata bagi warga binaan dan masyarakat. Menurutnya, pembinaan tidak cukup hanya mengajarkan keterampilan produksi, tetapi juga harus membangun kemampuan berwirausaha agar warga binaan memiliki bekal ekonomi ketika kembali ke lingkungan sosialnya.

“Pembinaan harus menghasilkan perubahan yang nyata. Melalui program seperti Gerobak Sayur, warga binaan belajar mengelola usaha, memahami proses pemasaran, dan membangun rasa percaya diri. Bekal inilah yang diharapkan menjadi modal untuk hidup mandiri setelah kembali ke masyarakat,” kata Herman Mulawarman,Senin (03/08/2026).

Herman menyebut  program Gerobak Sayur Lapas Kolonodale sejalan dengan arah kebijakan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan serta 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Ia mendorong seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di Sulawesi Tengah untuk terus menghadirkan inovasi pembinaan yang produktif, adaptif, dan memiliki nilai ekonomi.

“Potensi yang dimiliki setiap UPT harus terus dikembangkan menjadi program yang berdampak. Ketika warga binaan memperoleh keterampilan sekaligus pengalaman berwirausaha, peluang mereka untuk kembali produktif di tengah masyarakat akan semakin besar,” kata Herman.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas III Kolonodale, Bambang Hari Widodo, menjelaskan bahwa Gerobak Sayur Lapas Kolonodale merupakan bagian dari pembinaan kemandirian yang dirancang agar warga binaan memahami seluruh proses usaha, mulai dari budidaya hingga pemasaran hasil panen.

“Melalui kegiatan ini, warga binaan tidak hanya belajar mengelola lahan pertanian hingga menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga memahami proses pemasaran hasil panen. Kami berharap keterampilan tersebut menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat sekaligus mendukung program ketahanan pangan pemerintah,” ujar Bambang Hari Widodo, Kepala Lapas Kelas III Kolonodale.

Program tersebut mendapat respons positif dari masyarakat sekitar. Salah satunya Siti, salah seorang warga Kolonodale, mengaku rutin membeli sayuran hasil panen warga binaan karena kualitasnya yang segar dan harganya terjangkau.

“Sayurannya masih sangat segar karena langsung dari kebun, harganya juga terjangkau. Saya berharap lapak seperti ini terus ada karena sangat membantu masyarakat sekaligus menjadi bukti bahwa warga binaan mampu menghasilkan produk yang berkualitas,” ungkap Ibu Siti.

Melalui inisiatif Gerobak Sayur Lapas Kolonodale, Kanwil Ditjenpas Sulteng berkomitmen mendorong pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan semata, tetapi juga membangun jiwa kewirausahaan, memperkuat kemandirian warga binaan, serta menghadirkan hasil pembinaan yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas. (**)