JAKARTA, KAUSA – Amerika Serikat dan Iran kembali menghadapi ketegangan serius pada 26 September 2026, setelah pejabat senior militer Iran mengancam perluasan konflik hingga ke Samudra Hindia jika terjadi serangan baru dari AS atau Israel. Peringatan ini disampaikan di tengah penurunan drastis lalu lintas kapal di Selat Hormuz, yang mengancam stabilitas jalur pelayaran global dan pasokan energi dunia.

Mayor Jenderal Yahya Rahim Safavi, penasihat militer senior Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, menyatakan dalam sebuah video bahwa perang bisa meluas ke Samudra Hindia apabila Amerika Serikat memulai fase perang baru. Pernyataan tersebut menggarisbawahi potensi eskalasi geografis dari ketegangan AS-Iran yang sebelumnya terfokus di Teluk Persia dan Laut Merah.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam wawancara dengan Fox News pada 24 September 2026, menegaskan posisi ganda Iran. Ia menyatakan bahwa Iran tidak menginginkan perang berlanjut, tetapi akan merespons dengan kuat apabila serangan dari Amerika Serikat diteruskan. Pernyataan ini menunjukkan upaya Iran untuk mengirimkan pesan diplomatik sekaligus peringatan keras di tengah ketegangan AS-Iran yang memanas.

Data pelacakan kapal menunjukkan penurunan lalu lintas yang sangat tajam di Selat Hormuz. Pada akhir pekan menjelang 21 September 2026, hanya 17 kapal komoditas yang melintasi selat tersebut, turun dari 37 kapal pada pekan sebelumnya. Angka ini sangat jauh di bawah kondisi normal sebelum perang yang mencapai sekitar 125 kapal komersial besar per hari. Penurunan ini mencerminkan dampak langsung dari ketegangan AS-Iran terhadap aktivitas maritim.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasar energi global, dengan sekitar 20 juta barel minyak per hari atau sekitar 20 persen konsumsi cairan minyak dunia melewatinya pada tahun 2024. Selain itu, seperlima perdagangan LNG global, terutama dari Qatar dan Uni Emirat Arab, juga bergantung pada selat ini. Meluasnya ketegangan AS-Iran ke Samudra Hindia berpotensi menyebabkan kenaikan premi asuransi kapal, pengalihan rute, kenaikan biaya angkutan, dan keterlambatan pasokan energi secara global.

Kronologi Ketegangan AS-Iran dan Dampaknya

Lalu lintas Selat Hormuz mulai menurun drastis sebelum 21 September 2026, setelah konflik AS-Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Data pelacakan menunjukkan penurunan signifikan dalam jumlah kapal yang melintas, meskipun beberapa kapal mungkin mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) untuk menghindari deteksi.

Pada 17 September 2026, tercatat hanya tiga kapal komoditas melintasi Selat Hormuz, angka yang jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata harian sebelumnya. Penurunan ini menunjukkan bahwa ketegangan AS-Iran telah memengaruhi keamanan jalur pelayaran.

Presiden AS Donald Trump pada 22 September 2026 meningkatkan tekanan politik dengan menyatakan bahwa ia menghadapi keputusan besar mengenai apakah akan menghancurkan Iran jika kesepakatan tidak tercapai. Pernyataan ini memicu kekhawatiran akan serangan baru yang dapat memperluas wilayah konflik.

Pada 23 September 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan bahwa Iran telah mengajukan rencana kepada Amerika Serikat melalui mediator untuk mengakhiri konflik. Rencana ini menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam tujuh hari jika syarat-syarat tertentu dipenuhi, menunjukkan bahwa selat tersebut juga menjadi instrumen tawar-menawar dalam diplomasi ketegangan AS-Iran.

Puncak peringatan terjadi pada 24 September 2026, ketika Yahya Safavi secara terbuka memperingatkan bahwa perang dapat meluas ke Samudra Hindia, termasuk pembukaan front baru di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb. Ia juga mengaitkan Iran dengan kelompok Houthi di Yaman, yang dikenal sebagai aktor utama dalam ancaman terhadap pelayaran di kawasan tersebut.

Presiden Masoud Pezeshkian kembali menegaskan sikap Iran pada 24 September 2026 dalam wawancara dengan Fox News. Ia mengatakan, “Kami tidak ingin melanjutkan. Amerika-lah yang harus memilih apakah mereka ingin mengakhiri ini atau tidak.” Pezeshkian menambahkan, “Kami tidak pernah memulai perang, tetapi jika mereka ingin terus berperang dengan kami, kami akan merespons dengan kuat dan tegas.”

Prancis, melalui Presiden Emmanuel Macron, pada 24–25 September 2026 menyatakan akan mengirim sarana militer untuk melindungi terminal minyak Saudi dari serangan Houthi. Langkah ini menunjukkan respons internasional terhadap ancaman terhadap infrastruktur energi dan pelayaran regional di tengah ketegangan AS-Iran.

Harga minyak mentah Brent sempat menembus 108 dolar AS per barel pada 24 September 2026, sebelum sedikit turun pada 25 September 2026. Fluktuasi harga ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan global akibat ketegangan AS-Iran dan potensi gangguan di jalur pelayaran.

Ancaman Samudra Hindia dan Dampaknya

Pernyataan Mayor Jenderal Yahya Rahim Safavi mengenai kemungkinan meluasnya perang ke Samudra Hindia adalah sinyal eskalasi yang signifikan. Meskipun belum ada bukti operasi militer aktual Iran di Samudra Hindia, penyebutan wilayah ini memiliki nilai strategis dan psikologis penting. Samudra Hindia merupakan jalur vital bagi energi dari Teluk Persia menuju Asia, serta jalur perdagangan utama antara Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.

Iran juga memiliki hubungan politik dan militer dengan kelompok Houthi di Yaman, yang berulang kali menjadi ancaman bagi pelayaran di Laut Merah dan Bab el-Mandeb. Dalam skenario eskalasi, Iran dapat menggunakan dukungan kepada kelompok sekutunya untuk memperluas tekanan secara tidak langsung, termasuk serangan rudal atau drone, ancaman terhadap terminal energi, dan gangguan navigasi.

Selat Hormuz, yang menguasai sebagian besar garis pantai utaranya, menjadi alat tawar-menawar strategis bagi Iran. Iran dapat menekan pelayaran melalui ancaman penutupan atau pembatasan lalu lintas, pemeriksaan kapal, hingga penetapan rute yang dianggap aman oleh Iran. Amerika Serikat memiliki kepentingan untuk menjaga kebebasan navigasi dan melindungi kapal sekutunya di kawasan tersebut, namun operasi militer AS juga berisiko memicu serangan balasan Iran.

Negara-negara Asia, termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan, adalah pihak yang paling terpapar gangguan di Selat Hormuz karena mayoritas minyak dan LNG yang melewati selat tersebut ditujukan ke pasar Asia. Gangguan ini dapat menyebabkan kenaikan harga minyak, biaya logistik, dan inflasi yang meluas.

Skenario Potensial dan Dampak Global

Terdapat beberapa skenario yang mungkin terjadi di tengah ketegangan AS-Iran. Skenario pertama, ‘ketegangan terkendali’, di mana tidak ada serangan besar baru, namun premi asuransi tetap tinggi dan aktivitas pelayaran melambat. Skenario kedua, ‘pembukaan bertahap Selat Hormuz’, akan terjadi jika AS menyetujui sebagian syarat Iran, yang dapat menstabilkan harga minyak dan lalu lintas kapal secara bertahap.

Skenario yang lebih serius adalah ‘serangan baru Amerika Serikat atau Israel’, yang dapat memicu balasan Iran dan gangguan simultan di Selat Hormuz serta Bab el-Mandeb. Ini akan menyebabkan lonjakan tajam harga minyak dan LNG, serta tekanan pada pasokan energi negara-negara Asia. Skenario paling serius, ‘konflik meluas ke Samudra Hindia’, akan mengganggu konektivitas global secara luas, tidak hanya energi dari Teluk Persia, tetapi juga perdagangan antara Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.

Bagi Indonesia, ketegangan AS-Iran dapat berdampak signifikan. Kenaikan harga minyak internasional akan memengaruhi biaya impor energi, transportasi, dan pembangkit listrik, yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi. Gangguan di Laut Arab dan Samudra Hindia juga akan memengaruhi waktu tempuh kapal, tarif pengiriman, dan ketersediaan barang impor-ekspor, serta dapat menekan nilai tukar rupiah.

Hingga 26 September 2026, situasi masih berada dalam fase tekanan dan negosiasi. Perkembangan paling menentukan adalah apakah Amerika Serikat dan Iran menerima kerangka perundingan bertahap yang dapat mengarah pada pembukaan kembali Selat Hormuz. Jika perundingan gagal dan terjadi serangan baru, ancaman perluasan konflik ke Samudra Hindia akan menjadi lebih kredibel, berpotensi mengganggu jalur energi dan perdagangan dunia secara lebih luas.