PALU, KAUSA – Enam pengurus inti DPW Partai NasDem Sulawesi Tengah (Sulteng) mengundurkan diri secara bersamaan pada Senin, 3 Agustus 2026, menyusul dinamika internal yang memanas setelah deklarasi Ahmad Ali Center (AAC) di Palu pada 17 Juli lalu. Pengunduran diri enam pengurus NasDem Sulteng ini menjadi sorotan karena melibatkan posisi strategis seperti Sekretaris dan Bendahara DPW.

Mereka yang mundur adalah Ferry Anwar (Sekretaris DPW), Moh. Fahruddin Yunus (Bendahara DPW), Hadijah Hanamah (Wakil Bendahara Pengelolaan Dana dan Aset), Masrifan Ranroe Muchsen (Wakil Ketua Bidang Hubungan Legislatif), Viktor (Wakil Ketua Bidang Digital dan Siber), dan Salahuddin (Wakil Ketua Bidang Media dan Komunikasi Publik). Surat pengunduran diri diserahkan langsung ke kantor DPW NasDem Sulteng di Palu.

Isu sentral yang memicu pengunduran diri enam pengurus NasDem Sulteng adalah adanya persepsi internal bahwa kader dan pengurus yang menghadiri kegiatan AAC dianggap “tidak lagi bagian dari Partai NasDem”. 

Persepsi ini menciptakan kekecewaan mendalam di kalangan pengurus senior partai yang merasa harga diri mereka telah tercederai akibat kesimpulan tersebut. Ferry Anwar, mantan Sekretaris DPW NasDem Sulteng yang dilantik April 2026 dan kini menjadi salah satu yang mundur, menyuarakan keberatan atas perlakuan tersebut. 

“AAC sudah berkontribusi terhadap Partai NasDem, memberikan suara ke partai, bahkan turut memenangkan kursi untuk partai,” ujar Ferry Anwar dalam pernyataan resminya yang beredar, Senin (3/8/2026) . 

“Kalau sekarang orang-orang AAC dianggap tidak memiliki komitmen terhadap NasDem, maka sepertinya terbalik. NasDem-lah yang tidak memiliki komitmen dan penghargaan terhadap orang-orang yang berjuang untuk NasDem,” tambah Ferry.

Pernyataan Ferry Anwar lebih lanjut menggambarkan dilema yang dihadapi kader DPW NasDem Sulteng pascadeklarasi AAC. 

“Ahmad Ali Center (AAC) sudah dijelaskan adalah lembaga sosial, bukan underbow partai, dan Ahmad Ali sudah menjelaskan dengan tegas saat pidato di deklarasi AAC,” ujar Ferry Anwar. 

“Kami yang di AAC diminta memilih antara Ahmad Ali Center dan NasDem. Ahmad Ali sebagai kakak, guru, saudara yang sudah berjuang bersama selama 13 tahun; apapun itu saya tetap akan memilih berdiri di sebelah Ahmad Ali,” ungkapnya.

Deklarasi Ahmad Ali Center pada 17 Juli 2026 dihadiri ribuan pendukung dari 12 kabupaten dan 1 kota di Sulawesi Tengah, menjadi momentum yang kemudian memicu dinamika internal di DPW NasDem Sulteng. 

Ahmad Ali, mantan Wakil Ketua Umum Partai NasDem (2019-2025) dan kini Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI), menegaskan bahwa AAC adalah lembaga sosial dan kemanusiaan, bukan underbow partai

“AAC melepaskan diri dari kegiatan politik. AAC yang kita deklarasikan hari ini adalah AAC yang bekerja untuk kepentingan sosial,” kata Ahmad Ali saat acara tersebut.

Ahmad Ali mengakui bahwa sejarah berdirinya AAC terkait dengan perjalanannya di NasDem. 

“Sejarah berdirinya memang orang-orang yang bekerja selalu bersama saya dan ikut saya waktu itu di NasDem,” katanya. 

Namun, Ahmad Ali menekankan transformasi AAC menjadi lembaga fokus kepada aksi sosial konkret. Ia mengusulkan agar relawan AAC dilegalkan menjadi yayasan dan meminta setiap tiga bulan melakukan kerja sosial nyata untuk masyarakat.

Respon dari pimpinan DPW NasDem Sulteng menunjukkan sikap yang toleran terhadap pengunduran diri keenam pengurus. Pelaksana Tugas Sekretaris DPW NasDem Sulteng, Arman, mengatakan bahwa dinamika perpindahan kader adalah hal yang lumrah dalam kehidupan partai. 

“Pilihan politik seseorang tidak bisa diintervensi. Setiap kader memiliki hak politik untuk berpindah ke partai lain ataupun memilih beristirahat dari aktivitas politik,” ujar Arman. 

Sementara Ketua DPW NasDem Sulteng, Nilam Sari Lawira, dilaporkan menghormati keputusan kader yang memilih mundur. Pengunduran diri enam pengurus NasDem Sulteng mencerminkan relasi yang semakin tegang antara Ahmad Ali dan partai lamanya.

Ahmad Ali pernah menyebutkan dirinya “dibuang” oleh NasDem pada 2025 saat pindah ke PSI, serta menyinggung tentang “mahar politik” yang tidak terpenuhi. Pada Agustus 2026 ini, dampak persepsi negatif terhadap AAC di kalangan internal NasDem Sulteng semakin terasa nyata dengan pengunduran diri ini. 

Meski Ahmad Ali menekankan bahwa AAC adalah lembaga sosial independen, polarisasi di tingkat kader ternyata sudah terjadi dengan para pengurus memilih mengedepankan loyalitas kepada Ahmad Ali daripada tetap dalam struktur partai. (kn)