PALU, KAUSA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Mutiara Sis Al-Jufri Palu memprakirakan Potensi Karhutla Sulawesi Tengah dalam kategori sedang hingga sangat tinggi selama tujuh hari ke depan. Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk melakukan langkah mitigasi.

Prakiraan Potensi Karhutla Sulawesi Tengah ini didasarkan pada analisis parameter Fire Danger Rating System (FDRS), khususnya Fine Fuel Moisture Code (FFMC) dan Fire Weather Index (FWI). FFMC menunjukkan tingkat kemudahan terbakar bahan bakar ringan di permukaan tanah, sementara FWI mengindikasikan besarnya intensitas api jika terjadi kebakaran hutan.

Kepala Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Taufiq Hidayah, menjelaskan bahwa kondisi cuaca saat ini menjadi pemicu utama. 

“Kondisi ini disebabkan oleh kombinasi suhu udara yang tinggi, kelembapan rendah, serta angin kencang yang dapat mempercepat penyebaran api jika terjadi kebakaran,” kata Taufiq, Minggu (9/8/2026).

BMKG mengimbau kepada seluruh pemangku kepentingan untuk segera mengaktifkan posko siaga karhutla di tingkat provinsi, kabupaten, dan kecamatan. Penugasan petugas pemantauan lapangan secara bergilir 24 jam juga sangat penting untuk memantau Potensi Karhutla Sulawesi Tengah.

BMKG juga menekankan pentingnya penguatan koordinasi dan komunikasi antarlembaga. Pembentukan tim koordinasi harian yang melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI/Polri, Dinas Kehutanan, Dinas Pertanian, dan relawan diharapkan dapat menyamakan langkah serta pembagian wilayah tanggung jawab dalam menekan Potensi Karhutla Sulawesi Tengah.

Selain itu, sosialisasi dan edukasi intensif kepada masyarakat menjadi kunci. Langkah ini dapat dilakukan melalui sosialisasi door-to-door, pengeras suara desa, hingga membagikan brosur atau flyer digital tentang bahaya karhutla dan larangan membuka lahan dengan cara dibakar. Hal ini krusial untuk menurunkan Potensi Karhutla Sulawesi Tengah.

Meningkatkan patroli gabungan di wilayah rawan karhutla, terutama pada jam rawan (siang hingga sore hari), juga direkomendasikan. Pemanfaatan teknologi seperti drone atau kamera pengawas dapat membantu mendeteksi titik panas (hotspot) secara dini, sebagai respons terhadap Potensi Karhutla Sulawesi Tengah.

Kesiapan sarana dan prasarana pemadaman harus dipastikan. Hal ini mencakup ketersediaan peralatan pemadaman seperti pompa air, tangki air, alat pemadam api ringan (APAR), dan perlengkapan petugas. Menyiapkan pos-pos air dan membuat sekat bakar (firebreak) di area rawan juga menjadi prioritas.

BMKG juga meminta agar pemerintah menyediakan nomor pengaduan darurat yang aktif 24 jam. Ini untuk memastikan respon cepat terhadap setiap laporan asap atau api terkait Potensi Karhutla Sulawesi Tengah.

Untuk masyarakat, BMKG memberikan beberapa rekomendasi mitigasi. Pertama, dilarang keras membakar lahan, semak belukar, atau sampah dalam kondisi cuaca kering dan berangin. Jika terpaksa membakar untuk keperluan tertentu, lakukan dengan pengawasan ketat dan siapkan alat pemadam sederhana.

Kedua, segera laporkan kepada perangkat desa, petugas keamanan, atau BPBD setempat jika melihat adanya asap atau api. Ketiga, bersihkan lingkungan dari bahan mudah terbakar seperti tumpukan kayu, jerami, atau sampah kering di sekitar rumah. Buatlah jalur pemisah (sekat) dengan membersihkan ilalang dan semak.

Keempat, masyarakat diimbau untuk menjaga sumber air dan menyediakan cadangan air di setiap rumah atau lingkungan untuk keperluan darurat jika terjadi kebakaran kecil. Terakhir, ikuti arahan dari petugas dan pemerintah terkait evakuasi atau tindakan pencegahan lainnya.

“Kami sangat berharap agar seluruh pihak dapat bekerja sama dan bergerak cepat dalam menghadapi potensi karhutla ini,” ujar Taufiq. 

“Kewaspadaan dan tindakan preventif merupakan kunci utama untuk menghindari kerugian jiwa, harta, dan lingkungan,” pungkasnya. (kn)