155 KK di Dusun Sisere Terisolir, Bantuan Logistik dan Evakuasi Belum Tembus
KAUSA.ID, DONGGALA — Banjir bandang disertai longsor memutus total akses menuju Dusun Sisere, Desa Labuan Toposo, Kabupaten Donggala. Sedikitnya 155 kepala keluarga (KK) terisolir dan tidak dapat keluar dari wilayah tersebut sejak banjir melanda pada Minggu (11/1/2026)
Kepala Desa Labuan Toposo, Liswanto, mengatakan hingga Senin Pagi (12/1/2026) belum ada pihak yang berhasil menembus lokasi terdampak karena kondisi jalan yang rusak parah akibat longsoran di sejumlah titik.
“Iya, lewat di kampung enggak bisa keluar. Enggak bisa keluar sama sekali. Dari BPBD juga kemarin tidak bisa tembus, termasuk bersama Ketua DPR juga tidak bisa masuk,” ujar Liswanto kepada kauasa.id lewat sambungan telpon, Senin pagi (12/1/2026).
Menurutnya, terdapat enam titik longsoran yang menutup akses utama dari Dusun Simou menuju Dusun Sisere. Longsoran tersebut menyebabkan jalan tidak dapat dilalui kendaraan maupun pejalan kaki.
“Ada enam titik longsoran dari batas Dusun Simo sampai masuk ke Dusun Sisere. Itu yang membuat akses benar-benar terputus,” jelasnya.
Akibat kondisi tersebut, ratusan warga Dusun Sisere terjebak dan belum dapat dievakuasi. Hingga kini, mereka masih bertahan di lokasi dengan kondisi alam yang belum membaik. Liswanto juga mengatakan di Dusun Sisere ada sekitar 155 Kepala keluarga yang masih tertahan belum bisa dievakuasi.
“Di Dusun Sisere ada sekitar 155 KK. Mereka tertahan di situ, tidak bisa ke mana-mana karena hujan masih turun semalam dan banjir belum sepenuhnya surut,” kata Liswanto.
Selain memutus akses jalan, banjir bandang juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah warga. Beberapa bangunan dilaporkan terdampak longsoran, bahkan ada kendaraan warga yang hanyut dan tertimbun material.
Ketinggian air saat banjir, lanjut Liswanto, mencapai di atas lutut orang dewasa dan disertai lumpur tebal. Hampir seluruh wilayah terdampak, tidak hanya Dusun Sisere, tetapi juga dusun-dusun lain di wilayah bawah.
“Airnya tidak sampai pinggang, tapi di atas lutut, dengan lumpur. Hampir semua wilayah terendam, bukan hanya di Sisere,” jelasnya.
Terkait penanganan darurat, pemerintah desa telah berkoordinasi dengan BPBD dan sejumlah pihak untuk membuka kembali akses jalan menggunakan alat berat. Namun, upaya tersebut terkendala kondisi jembatan dan derasnya arus sungai.
“Ada rencana pengadaan alat berat dalam satu-dua hari ini. Kami juga minta bantuan perusahaan, tapi jembatan menuju Sisere goyang dan tidak memungkinkan dilalui alat berat. Air sungai juga masih sangat deras,” kata Liswanto.
Ia menyebutkan, beberapa perusahaan telah dimintai bantuan, termasuk untuk penyediaan ekskavator berukuran kecil agar dapat membersihkan material longsor secara bertahap.
Hingga kini, bantuan logistik belum berhasil masuk ke Dusun Sisere. Meski demikian, sejumlah pihak dikabarkan berupaya menyalurkan bantuan dan mencoba menembus jalur yang terputus.
“Logistik belum ada yang sampai. Tapi pagi ini ada yang menelepon, katanya mau coba antar bantuan ke atas, siapa tahu bisa tembus,” katanya.
Kondisi komunikasi di Dusun Sisere juga menjadi tantangan tersendiri. Wilayah tersebut tidak memiliki jaringan telekomunikasi seluler dan hanya mengandalkan jaringan Wi-Fi berbasis kabel fiber optik, yang kini juga terganggu akibat pemadaman listrik.
“Di Sisere memang tidak ada jaringan telepon, tidak ada tower. Biasanya hanya pakai Wi-Fi, tapi listrik sering putus, jadi komunikasinya juga terganggu,” pungkas Liswanto. (katrin)


Tinggalkan Balasan