Harga Seragam Rp800 Ribu SMA 6 Palu Dikeluhkan Orang Tua Siswa
PALU, KAUSA – Harga seragam SMA Negeri 6 Palu yang mencapai Rp800 ribu memicu keluhan dari salah seorang orang tua siswa, Reny Ramadani. Harga paket seragam SMA 6 Palu tersebut dinilai sangat memberatkan, terutama bagi keluarga dengan penghasilan tidak tetap.
Reny Ramadani mengungkapkan bahwa paket seragam SMA 6 Palu yang ditawarkan meliputi baju batik, baju olahraga, topi, dasi, lambang sekolah, serta ikat pinggang. Kondisi ekonomi keluarganya, dengan suaminya sebagai buruh keruk pasir berpenghasilan tidak menentu, membuat pembelian seragam ini menjadi beban besar.
“Rp800 ribu itu sangat berat bagi saya. Penghasilan suami saya hanya sekitar Rp50 ribu sampai Rp80 ribu per hari. Kadang Rp100 ribu, bahkan kadang tidak mendapatkan penghasilan sama sekali. Bukan hanya seragam yang harus dibayar, masih banyak kebutuhan lainnya,”kata Reny Ramadani.
Reny juga mempertanyakan keberadaan program seragam gratis bagi siswa kurang mampu yang menjadi bagian dari program ‘BERANI CERDAS milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang mencakup beasiswa dan bantuan seragam.
Menanggapi keluhan terkait harga seragam SMA 6 Palu, Kepala SMA Negeri 6 Palu, Halimatang, membantah informasi bahwa pembelian seragam tidak bisa dicicil. Ia mengaku keberatan dan merasa difitnah atas laporan keluhan orang tua siswa ke Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah.
“Laporan dengan Pak Kadis itu tidak sesuai dengan kenyataan! Seharusnya konfirmasi ke saya dulu,” kata Halimatang, menambahkan bahwa sekolah tetap peduli pada orang tua dengan keterbatasan ekonomi.
Dalam pertemuan dengan wartawan dan Reny Ramadani, Selas (18/8/2026), Halimatang sempat menyinggung isu suku, namun wartawan mengingatkan untuk tidak membawa-bawa hal tersebut. Ia juga mempertanyakan sumber informasi wartawan dan mengungkapkan kekesalannya.
“Siapa semua orang tua yang melapor itu. Bukan main ini orang tua. Tidak tahu diri sekali,” tanyanya geram.
Suasana semakin menegang ketika wartawan mempertanyakan apakah Reny bisa mendapatkan seragam untuk anaknya. Halimatang menegaskan bahwa SMA Negeri 6 Palu tidak memiliki program seragam gratis dari sekolah.
“Ini dibeli sayang, dibeli!” tekannya dengan suara tinggi.
Akibat persoalan harga seragam SMA 6 Palu ini, Reny Ramadani merasa tertekan dan berencana memberhentikan sementara anaknya dari SMA Negeri 6 Palu. Ia menegaskan tidak bermaksud menjelek-jelekkan atau memfitnah sekolah, melainkan hanya menyampaikan keluhan atas keberatan harga seragam.
“Mulai besok anak saya tidak usah lagi sekolah. Saya datang ke sekolah baik-baik, hanya ingin meminta seragam Pramuka dan seragam lainnya. Tidak lebih,” ujar Reny Ramadani.
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Firmanza, menjelaskan bahwa program bantuan seragam gratis memang ada di dinas, bukan di sekolah. Sekolah dapat mengusulkan siswa dari keluarga tidak mampu untuk memperoleh bantuan seragam.
“Program seragam gratis itu adanya di dinas, bukan di sekolah. Kalau ada siswa yang tidak mampu membeli seragam, bisa diusulkan oleh sekolah ke dinas untuk mendapatkan seragam secara gratis,” jelas Firmanza.
Ia menegaskan semua sekolah sudah mengetahui mekanisme tersebut. ‘Semua sekolah sudah tahu program seragam gratis untuk keluarga tidak mampu. Jadi kalau ada siswanya yang tidak mampu, laporkan saja ke dinas. Ada anggaran pada kami. Atau bawa saja siswanya ke dinas, nanti kami bantu,’ tambahnya.
Warga Pengawu, Abd Rahman, turut menyoroti persoalan harga seragam SMA 6 Palu ini, mempertanyakan implementasi istilah sekolah gratis.
“Katanya sekolah gratis, yang mana gratisnya? Seragam dibeli, atribut seragam dibeli, uang kas juga dipungut. Kalau memang gratis, seharusnya benar-benar tidak ada pungutan apa pun,” ujar Abd Rahman. (**)


Tinggalkan Balasan