JAKARTA, KAUSA – Laporan terkini menyebutkan sedikitnya 254 orang tewas akibat Gempa Kolombia bermagnitudo 7,4 yang mengguncang wilayah barat negara itu pada Senin, 10 Agustus 2026. Data ini terus diperbarui seiring dengan operasi pencarian dan penyelamatan yang masih berlangsung, di mana komunikasi dengan sejumlah wilayah terdampak masih terganggu.

Badan PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat, selain korban jiwa dalam Gempa Kolombia, ribuan orang juga mengalami luka-luka, dan ratusan lainnya masih dinyatakan hilang. Proses verifikasi dan konsolidasi data korban serta kerusakan masih berjalan.

Episentrum Gempa Kolombia dilaporkan berada sekitar 5 kilometer sebelah timur San José del Palmar, Departemen Chocó, dengan kedalaman sekitar 107 kilometer. Guncangan kuat dirasakan di berbagai kota besar, termasuk Bogotá, Cali, Medellín, Pereira, Manizales, Armenia, dan Quibdó, menambah daftar panjang wilayah terdampak Gempa Kolombia.

Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella sebelumnya mengonfirmasi angka resmi 181 orang tewas, 2.595 orang luka-luka, dan 195 orang hilang. Namun, laporan terbaru dari berbagai sumber, termasuk media dan basis data masyarakat sipil, menunjukkan angka korban bisa lebih tinggi, khususnya untuk korban hilang yang diperkirakan mendekati 4.000 orang.

Kerusakan fisik akibat Gempa Kolombia juga masif. OCHA melaporkan hampir 5.000 rumah mengalami kerusakan, dengan 387 rumah hancur dan 61 bangunan runtuh. Lebih dari 550 lembaga pendidikan, sedikitnya 350 pusat komunitas, 24 fasilitas kesehatan, dan 53 ruas jalan juga terdampak bencana ini.

Kronologi menunjukkan bahwa gempa terjadi pada pagi hari waktu Kolombia, Senin, 10 Agustus 2026. Beberapa jam setelah gempa, bangunan runtuh mulai dilaporkan di Cali dan Pereira, menyebabkan warga terjebak di bawah reruntuhan. Tim penyelamat segera dikerahkan untuk membantu korban Gempa Kolombia.

Pada Senin sore, Presiden Abelardo de la Espriella menetapkan status darurat nasional untuk mempercepat mobilisasi bantuan. Ia menekankan bahwa prioritas utama adalah menyelamatkan warga yang terjebak di bawah reruntuhan.

“Pemerintah nasional telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melindungi kehidupan, membantu masyarakat terdampak, dan menyalurkan bantuan ke setiap wilayah yang membutuhkannya,” kata Presiden Abelardo de la Espriella.

Peningkatan jumlah korban terus terjadi seiring dengan proses evakuasi. Wali Kota Cali Alejandro Eder menyampaikan data di kotanya. “Sayangnya, yang dapat kami laporkan adalah 95 kematian. Itu adalah penghitungan pagi ini. Kami memiliki 949 orang yang terluka dan 86 orang yang telah diselamatkan,” ujarnya.

Tim SAR masih berjuang melakukan pencarian di bawah reruntuhan, dengan batas waktu 72 jam pertama yang krusial untuk menemukan penyintas. Salah satu kisah penyelamatan datang dari Cali, di mana seorang perempuan bernama Diana berhasil dievakuasi setelah sekitar 30 jam terjebak.

Hingga Rabu, 12 Agustus 2026, lebih dari 100 gempa susulan telah terjadi. Tiga bandara masih ditutup dan sejumlah jalan utama belum dapat dilalui, menghambat distribusi bantuan ke wilayah-wilayah terpencil yang terdampak Gempa Kolombia.

Pemerintah Kolombia memperkirakan perlu beberapa hari untuk memastikan skala kerusakan dan jumlah korban akhir, mengingat akses dan komunikasi yang terbatas di beberapa daerah. Amerika Serikat telah menjanjikan bantuan tanggap darurat senilai 15,5 juta dolar AS, setara sekitar Rp276,4 miliar. (**)