JAKARTA, KAUSA – Laporan terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) yang didasarkan pada Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap temuan mengejutkan. 

Sebanyak lima jurusan kuliah S1 terbanyak jadi pengangguran di Indonesia. Temuan ini menyoroti fenomena ‘pengangguran terdidik’ dan kesenjangan antara lulusan pendidikan tinggi dengan kebutuhan pasar kerja.

Analisis yang dimuat dalam Labor Market Brief Volume 7, Nomor 7, Juli 2026, tersebut mengidentifikasi bidang studi yang paling banyak ditemukan di antara pengangguran dengan pendidikan minimal Sarjana (S1). Laporan ini kembali menjadi sorotan publik pada Agustus 2026, memicu diskusi mengenai perencanaan pendidikan tinggi dan penyerapan tenaga kerja.

Muhammad Hanri, PhD dan Nia Kurnia Sholihah, MD, peneliti dari LPEM FEB UI, menemukan bahwa komposisi pengangguran Sarjana paling banyak berasal dari jurusan kuliah S1 terbanyak jadi pengangguran yang mencakup bidang-bidang dengan cakupan luas dan basis lulusan besar.

5 Jurusan Kuliah S1 Terbanyak Jadi Pengangguran

Berdasarkan analisis LPEM FEB UI terhadap Sakernas Agustus 2025, lima jurusan kuliah S1 terbanyak jadi pengangguran secara berurutan adalah:

  • Manajemen: Sekitar 10,3 persen dari total pengangguran minimal S1.
  • Hukum: 9,0 persen.
  • Ekonomi: 8,7 persen.
  • Pendidikan: 7,1 persen.
  • Akuntansi: 5,1 persen.

Kelima jurusan kuliah S1 terbanyak jadi pengangguran ini secara kolektif menyumbang sekitar 40 persen dari seluruh pengangguran lulusan Sarjana di Indonesia. Menariknya, bidang Ilmu Komputer/Informatika juga menyumbang sekitar 4,6 persen, meskipun sering dianggap memiliki prospek kerja yang baik.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, mengutip data Sakernas Agustus 2025, menyatakan bahwa lulusan D4, S1, S2, dan S3 secara gabungan menyumbang sekitar 6,23 persen dari total pengangguran nasional. 

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, dalam konferensi pers pengumuman hasil Sakernas Agustus 2025 di kantor pusat BPS, Jakarta, pada 5 November 2025, mengungkapkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional mengalami penurunan tipis dari 4,91 persen pada Agustus 2024 menjadi 4,85 persen pada Agustus 2025. Meski begitu, jumlah pengangguran absolut tetap tinggi, mencapai 7,46 juta orang.

Fenomena Pengangguran Terdidik

LPEM FEB UI menyoroti bahwa terdapat sekitar 8 juta lulusan Sarjana di Indonesia yang bekerja di bawah tingkat pendidikan mereka. Fenomena ini, yang sering disebut sebagai ‘underemployment’, mengindikasikan bahwa pertumbuhan tenaga kerja terdidik lebih cepat daripada penciptaan pekerjaan profesional berketerampilan tinggi yang sesuai.

“Terdapat sekitar 8 juta lulusan sarjana di Indonesia yang bekerja di bawah tingkat pendidikan mereka,” kata Muhammad Hanri, PhD dan Nia Kurnia Sholihah, MD dalam laporan mereka.

Para peneliti juga menyoroti perlunya perencanaan yang matang dalam setiap perluasan kapasitas pendidikan tinggi, termasuk rencana pendirian Universitas Republik Indonesia (URI). Mereka menekankan pentingnya kejelasan mengenai bidang studi yang benar-benar dibutuhkan, standar mutu yang kuat, pengisian kesenjangan akses, serta keterhubungan dengan strategi pengembangan ekonomi dan penciptaan pekerjaan.

“Ketiadaan kejelasan-kejelasan ini akan berisiko, didirikannya universitas baru menjadi kebijakan yang fokus pada pasokan lulusan, sedangkan persoalan transisi ke dunia kerja belum banyak berubah,” tambah mereka.

LPEM FEB UI merekomendasikan penguatan mutu perguruan tinggi yang sudah ada, perbaikan hubungan antara pendidikan tinggi dengan dunia kerja, serta penciptaan lebih banyak pekerjaan berketerampilan tinggi, sebagai langkah-langkah yang sama pentingnya dengan mendirikan universitas baru. (kn)