JAKARTA, KAUSA – Sebuah Gempa Magnitudo 7,4 Kolombia mengguncang wilayah barat pada Senin, 10 Agustus 2026, mengakibatkan setidaknya 132 orang meninggal dunia dan lebih dari 570 orang lainnya luka-luka. Pemerintah Kolombia segera mengaktifkan status bencana nasional untuk mempercepat penanganan dampak gempa.

Guncangan kuat dari Gempa Magnitudo 7,4 Kolombia ini menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur, termasuk runtuhnya bangunan dan terganggunya fasilitas publik di sejumlah departemen, terutama Chocó, Risaralda, dan Valle del Cauca.

Episentrum Gempa Magnitudo 7,4 Kolombia berlokasi di sekitar San José del Palmar, Departemen Chocó, dan terjadi pada pukul 07.34 waktu setempat. Guncangan dirasakan hingga ke kota-kota besar seperti Cali, Medellín, dan Bogotá, bahkan dilaporkan terasa di negara tetangga Panama dan Venezuela.

Menurut Servicio Geológico Colombiano (SGC), Gempa Magnitudo 7,4 Kolombia ini merupakan akibat dari proses subduksi Lempeng Nazca yang menunjam di bawah Lempeng Amerika Selatan. Interaksi lempeng ini memicu pelepasan energi besar di wilayah barat Kolombia.

Direktur Jenderal SGC, Julio Fierro, menyatakan bahwa gempa ini adalah yang terkuat yang dirasakan di Kolombia dalam satu dekade terakhir. “Ini adalah gempa yang terasa paling kuat dalam satu dekade terakhir di Kolombia,” kata Julio Fierro.

Ia menambahkan, “Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, memeriksa informasi terkait gempa melalui Servicio Geológico Colombiano, serta mengikuti laporan dari sumber resmi seperti Unidad Nacional para la Gestión del Riesgo de Desastres.”

Setelah Gempa Magnitudo 7,4 Kolombia utama, serangkaian gempa susulan juga dilaporkan terjadi, dengan yang terbesar mencapai magnitudo 5,0 sekitar 44 menit setelah gempa awal. Hingga siang hari waktu setempat, SGC mencatat setidaknya 18 gempa susulan.

Presiden Kolombia, Abelardo de la Espriella, dengan cepat mengambil tindakan. Ia mengumumkan status bencana nasional dan berjanji akan memimpin langsung koordinasi tanggap darurat. “Negara hadir dan mengambil tindakan,” tegas Presiden Abelardo de la Espriella.

Data kerusakan awal menunjukkan sekitar 1.575 rumah mengalami kerusakan, dengan 37 di antaranya hancur total. Selain itu, sedikitnya 61 bangunan runtuh, 18 pusat layanan kesehatan, dan 52 fasilitas pendidikan juga terdampak Gempa Magnitudo 7,4 Kolombia.

Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung di beberapa wilayah yang paling parah terdampak Gempa Magnitudo 7,4 Kolombia. Beberapa bandara di wilayah tersebut menghentikan operasional sementara untuk pemeriksaan keselamatan struktur, menambah daftar gangguan akibat bencana ini.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melaporkan bahwa Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Kolombia sejauh ini berada dalam kondisi aman. Namun, data ini masih dapat diperbarui seiring dengan proses komunikasi dan pendataan konsuler yang berkelanjutan. (**)