JAKARTA, KAUSA – Sejumlah emiten saham sawit melonjak signifikan hingga 52,74 persen dalam sepekan terakhir hingga Jumat, 21 Agustus 2026. Kenaikan harga saham sawit ini terjadi bersamaan dengan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah Kalimantan dan Sumatra, serta menguatnya harga komoditas minyak sawit mentah (CPO) global.

Penguatan saham sawit tertinggi dicatat PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) yang naik 52,74 persen ke level Rp3.070 per saham. Disusul PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) yang menguat 24,72 persen menjadi Rp111 per saham. Emiten lain seperti PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) juga mencatatkan kenaikan.

Kenaikan saham sawit ini sejalan dengan melonjaknya harga kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives yang mencapai sekitar MYR4.961-MYR4.977 per ton pada 20 Agustus 2026. Nilai ini setara dengan sekitar Rp21,7 juta-Rp21,8 juta per ton. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terpantau menguat 1,93 persen sepanjang pekan tersebut.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengingatkan agar tidak terburu-buru mengaitkan kenaikan saham sawit dengan karhutla. Menurutnya, karhutla dan penguatan saham sawit lebih mungkin merupakan dampak dari faktor yang sama, yakni kekeringan ekstrem akibat fenomena El Niño.

“Saya kira kita perlu hati-hati membaca hubungan antara kebakaran dan kenaikan saham sawit. Pasar sebenarnya tidak sedang merayakan kebakaran. Keduanya lebih tepat dilihat sebagai dampak dari satu faktor yang sama, yaitu kekeringan ekstrem,” kata Yusuf Rendy Manilet, dikutip dari Jawa Pos, Jumat (21/8/2026).

Kekeringan ekstrem memicu kekhawatiran berkurangnya pasokan CPO, yang kemudian mendorong kenaikan harga komoditas. Sementara itu, permintaan tetap kuat, didukung oleh kebijakan B50 dan penguatan harga minyak dunia. Kondisi ini secara teoretis dapat meningkatkan pendapatan dan margin perusahaan sawit.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi El Niño 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai kategori sangat kuat. Puncak musim kemarau diprakirakan terjadi pada Agustus dan September 2026, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Hal ini meningkatkan risiko karhutla yang terlihat dari data titik panas.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat penurunan jumlah titik panas nasional dari 2.170 titik pada 19 Agustus menjadi 950 titik pada 20 Agustus 2026. Namun, penurunan ini bersifat dinamis dan tidak berarti ancaman karhutla telah berakhir.

Di sisi lain, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) telah menyegel areal konsesi PT Bintang Harapan Palma di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan. Penyegelan dilakukan setelah ditemukan area terdampak kebakaran seluas sekitar 454 hektare di salah satu lokasi. Pemerintah menyatakan masih mendalami fakta lapangan sebelum menentukan langkah hukum berikutnya.

Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup KLH/BPLH, Rizal Irawan, menegaskan bahwa kebakaran di dalam atau sekitar konsesi tidak boleh dipandang sebagai peristiwa biasa. 

“Kami akan melihat secara menyeluruh aspek pengelolaan lingkungan, termasuk bagaimana tanggung jawab korporasi dalam mencegah, menangani, dan memastikan kebakaran tidak meluas di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya,” ujar Rizal Irawan. 

“Setiap temuan akan kami dalami berdasarkan fakta dan ketentuan peraturan perundang-undangan.” tambahnya. (**)