Saham Sawit Melesat Saat Karhutla, Ini Kata Ekonom Soal Korelasi
JAKARTA, KAUSA – Sejumlah emiten saham sawit mengalami kenaikan signifikan dalam sepekan terakhir hingga Jumat, 21 Agustus 2026. Penguatan ini terjadi beriringan dengan peningkatan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah, serta kekeringan akibat El Niño yang diprediksi sangat kuat.
Kenaikan paling tajam dicatat PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) yang melesat 52,74 persen. Emiten lain seperti PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) naik 24,72 persen, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) naik 9,50 persen, dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik 5,69 persen. Fenomena kenaikan saham sawit ini menarik perhatian, mengingat kondisi lingkungan yang sedang memburuk.
Penguatan saham sawit tersebut juga didukung oleh lonjakan harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives. Pada 20 Agustus 2026, harga CPO mencapai MYR4.961–MYR4.977 per ton, level tertinggi dalam sekitar 20 bulan terakhir. Selain itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menguat 1,93 persen dalam sepekan.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kenaikan saham sawit tidak tepat dibaca sebagai pasar yang merayakan kebakaran. Ia menjelaskan, karhutla dan penguatan saham lebih mungkin merupakan dampak dari faktor yang sama, yaitu kekeringan ekstrem. Ekspektasi berkurangnya pasokan CPO dapat mendorong harga komoditas, sementara permintaan tetap kuat, antara lain karena kebijakan B50 dan penguatan harga minyak dunia.
“Saya kira kita perlu hati-hati membaca hubungan antara kebakaran dan kenaikan saham sawit. Pasar sebenarnya tidak sedang merayakan kebakaran. Keduanya lebih tepat dilihat sebagai dampak dari satu faktor yang sama, yaitu kekeringan ekstrem,” kata Yusuf Rendy Manilet, Jumat (21/8/2026).
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan El Niño 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai kategori sangat kuat. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dan September 2026, terutama di Sumatra dan Kalimantan. Kondisi ini meningkatkan risiko karhutla yang serius. Data SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan jumlah titik panas nasional sempat turun dari 2.170 titik pada 19 Agustus menjadi 950 titik pada 20 Agustus 2026, namun ancaman karhutla masih tetap ada.
Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) telah menyegel areal konsesi PT Bintang Harapan Palma di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan. Penyegelan ini menyusul temuan area terdampak kebakaran sekitar 454 hektare. Pemerintah masih mendalami fakta lapangan sebelum menentukan langkah hukum berikutnya terhadap perusahaan pemegang konsesi saham sawit.
Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup pada Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Rizal Irawan, menegaskan bahwa kebakaran di dalam atau di sekitar areal konsesi tidak boleh dipandang sebagai peristiwa biasa. “Kami akan melihat secara menyeluruh aspek pengelolaan lingkungan, termasuk bagaimana tanggung jawab korporasi dalam mencegah, menangani, dan memastikan kebakaran tidak meluas di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya,” ujar Rizal Irawan.
Kesimpulan awal dari berbagai data menunjukkan bahwa kenaikan saham sawit pada periode yang sama dengan karhutla merupakan fakta pasar yang terukur. Namun, belum terdapat bukti kuat bahwa kenaikan saham tersebut disebabkan langsung oleh kebakaran atau investor merespons kebakaran secara positif. Penjelasan yang lebih masuk akal adalah kombinasi kenaikan ekspektasi harga CPO, kekhawatiran terhadap pasokan akibat kekeringan, kebijakan biodiesel, dan sentimen pasar. Kebakaran di dalam konsesi tetap menjadi pertanyaan serius mengenai tanggung jawab korporasi. (**)


Tinggalkan Balasan